Orang Kristen ikut Sembahyang Kubur?

Bagi orang keturunan Tionghoa yang mayoritas anggota keluarganya Kristen, maka sembahyang kubur tidaklah menjadi soal. Tetapi untuk kita yang anggota keluarganya hanya 1 atau 2 yang Kristen (minoritas), maka sembahyang kubur adalah sesuatu yang bisa menjadi bahan pertengkaran.

Mau ikut sembahyang kubur, kita takut dibilang menyembah berhala. Tidak mau ikut nantinya dibilang durhaka, tidak berbakti dan kadang ada saudara yang memaksa ikut.

Sebenarnya orang Kristen boleh ga sih ikut sembahyang kubur? Boleh / tidaknya itu, saya kira adalah antara boleh dan tidak. Tidak tegas? Iya, sebagai seorang Kristen awam, saya kira ini daerah yang sifatnya abu-abu.

Ketika orang mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh ikut tradisi pergi sembahyang ke keburan nenek moyangnya, maka saya kuatir orang tersebut akan menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk mengenal Tuhan Yesus Kristus.

Ceng Beng dalam Adat Tionghoa
Ceng Beng dalam Adat Tionghoa via Antara Bakti Anak dan Penyembahan Berhala (Perayaan Ceng Beng dalam Adat Tionghoa Dimata Agama Kristen)

Karena dengan melarang orang Kristen ikut sembahyang kubur, maka orang tua tidak akan mengijinkan anaknya masuk Kristen. Jika anaknya ikut Sekolah Minggu dan ke Gereja, maka orang tuanya bisa jadi akan marah-marah, mungkin pikirnya, nanti kalau mereka sudah meninggal tidak ada yang ngurus makam mereka.

Jika anak-anak itu tidak mengenal Tuhan dengan benar karena tidak boleh ikut sembahyang kubur, maka saya kira itu adalah salahnya orang yang melarang. Bukan salah anak, bukan salah orang tuanya, bukan salah Tuhan.

Ketika orang mengatakan bahwa orang Kristen boleh ikut tradisi pergi ke keburan nenek moyangnya, maka saya kuatir orang tersebut akan menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk mengenal Tuhan Yesus Kristus. Karena orang Kristen yang masih lemah akan berpikir bahwa dia boleh ikut sembahyang kubur untuk mendapat berkat, rejeki dan perlindungan dari nenek moyangnya. Gimana nih?

Saya pikir, tidak masalah sebagai orang Kristen kita ikut sembahyang kubur, tetapi kita harus yakin bahwa kuburan itu bukan sesuatu yang ilahi, bukan berhala, tidak bisa memberikan perlindungan, tidak bisa memberkati.

1Co 8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

Apakah ada ayat melarang / mengijinkan sembahyang kubur? Tidak ada.

Namun kalau kita hanya percaya kepada Allah dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, maka kita boleh ikut dengan saudara, membantu saudara angkat barang untuk sembahyang kubur. Yang benar?

Dalam jaman Perjanjian Lama saja Nabi Elisa mengijinkan Naaman (panglima raja Aram yang percaya kepada TUHAN) untuk ikut sujud menyembah dalam kuil Rimon bersama dengan tuannya. Harusnya sebagai orang Perjanjian Baru, pikiran kita akan lebih terbuka.

2Ki 5:17 Akhirnya berkatalah Naaman: “Jikalau demikian, biarlah diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN.

2Ki 5:18 Dan kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam perkara yang berikut: Apabila tuanku masuk ke kuil Rimon untuk sujud menyembah di sana, dan aku menjadi pengapitnya, sehingga aku harus ikut sujud menyembah dalam kuil Rimon itu, kiranya TUHAN mengampuni hambamu ini dalam hal itu.”

2Ki 5:19 Maka berkatalah Elisa kepadanya: “Pergilah dengan selamat!” Setelah Naaman berjalan tidak berapa jauh dari padanya,

Bagaimana kalau kita adalah anak satu-satunya dan orang tua kita masih teguh memegang tradisi? Bukankah kita tinggal sendiri, siapa kelak yang akan ziarah kuburan mereka? Mungkin, sekali lagi ini jalan yang MUNGKIN dapat kita ambil. Kita tetap pergi membersihkan kuburan mereka dan jika kita sendiri tidak mengerti bagaimana cara melakukannya / atau tidak mau melakukannya, maka kita minta tolong orang lain untuk melakukan kebiasaan yang dilakukan pada saat ziarah kuburan nenek moyang.

Seiring berjalannya waktu, maka beberapa generasi berikutnya kalau anak dan cucu dan cicit kita sudah percaya Tuhan, maka tradisi sembahyang kubur tidaklah menjadi soal lagi.

Hal ini kita lakukan dengan pertimbangan pendapat umum, supaya jangan orang lain mencela Nama Tuhan yang akan menyebabkan mereka bersalah. Karena besar kemungkinan orang akan berkata bahwa, kasihan orang itu, punya anak yang dibesarkan dengan susah payah tetapi tidak ‘berbakti’ kepada orang tuanya, karena sudah menjadi orang Kristen,…. dan lain sebagainya yang mungkin akan diucapkan oleh orang-orang yang belum mengerti.

Mengapa kita harus mempertimbangkan pendapat orang lain? Kita kita ingat bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita manusia. Kalau Tuhan saja mengasihi mereka, kenapa kita tidak?

Bagaimana dengan makanan bekas sembahyang? Bolehkah kita memakannya? Boleh, tetapi kita harus memakannya sebagai makanan yang biasa. Jangan mengikuti anggapan orang-orang yang belum percaya Tuhan, bahwa makanan makanan bekas sembahyang akan mendatangkan berkat atau selamat. Hendaknya kita juga berhati-hati agar tidak menjadi batu sandungan bagi saudara kita yang masih lemah hati nuraninya.

1Co 8:1 Tentang daging persembahan berhala kita tahu: “kita semua mempunyai pengetahuan.” Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.

1Co 8:2 Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu “pengetahuan”, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya.

1Co 8:3 Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.

1Co 8:4 Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.”

1Co 8:5 Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian–

1Co 8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

1Co 8:7 Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya.

1Co 8:8 “Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.”

1Co 8:9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

1Co 8:10 Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?

1Co 8:11 Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena “pengetahuan” mu.

1Co 8:12 Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus.

1Co 8:13 Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

Tradisi memang sering dipermasalahkan. Dalam jemaat mula-mula, mereka berhadapan dengan tradisi sunat dan rasul Paulus, berkata: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu — Gal 5:2.

Tetapi dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 16, rasul Paulus menyuruh menyunatkan Timotius supaya dapat menyertainya dalam perjalanan memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi. Timotius ini ibunya orang Yahudi dan ayahnya orang Yunani.

Mengapa rasul Paulus terlihat tidak konsisten? Rasul Paulus mengalah. Karena kalau Timotius tidak disunat, maka Timotius tidak dapat memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi yang sangat kuat memegang tradisi sunat. Kalau Timotius tidak sunat, maka orang-orang Yahudi tidak akan mau mendengar dia.

Apa hubungannya kisah Timotius dengan kita ikut sembahyang kubur? Kalau mau dihubungkan ya ada, tetapi kalau tidak mau menghubungkannya ya sudah.🙂 ini hanya hasil pemikiran sendiri, bukan pengajaran resmi dari Gereja tertentu.